PRODUKTIVITAS
PRODUKTIVITAS
Produktivitas dalam konteks ini sangat erat kaitannya dengan hasil panen yang optimal dan berkualitas yang dicapai dengan cara yang efektif, efisien, dan berkelanjutan sambil meminimalkan kerugian.
Mempertahankan Produksi Tinggi: Tujuan utama PHT adalah menjaga populasi Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) di bawah Ambang Ekonomi (AE) atau Ambang Kendali (AK), yang merupakan batas tingkat kerusakan hama di mana tindakan pengendalian masih menguntungkan secara ekonomi.
Mengamankan Produksi: Pengendalian yang efektif mencegah kerusakan tanaman yang parah akibat serangan OPT, sehingga jumlah hasil panen (produksi) tidak berkurang drastis.
Kualitas Komoditas: Produktivitas juga mencakup kualitas hasil panen. Pengendalian yang baik akan menghasilkan produk pertanian yang sehat, utuh, dan sesuai standar pasar, misalnya bebas atau rendah residu pestisida (terutama dalam PHT yang mengutamakan metode ramah lingkungan). Kualitas yang baik sering kali meningkatkan harga jual, yang pada akhirnya meningkatkan keuntungan/produktivitas ekonomi.
Efisiensi Usaha Tani: Penggunaan metode PHT yang bijak (seperti pemanfaatan musuh alami, rotasi tanaman, dan penggunaan pestisida kimia sebagai pilihan terakhir) bertujuan untuk mengendalikan hama dengan biaya yang lebih rendah dan tepat sasaran. Hal ini berarti petani dapat menghasilkan lebih banyak (atau setidaknya tetap stabil) dengan input biaya yang lebih efisien.
Peningkatan Pendapatan: Dengan hasil panen yang tinggi, kualitas yang baik, dan biaya pengendalian yang rasional, keuntungan usaha tani (pendapatan petani) secara keseluruhan akan meningkat, yang merupakan indikator tertinggi dari produktivitas.
Keseimbangan Ekosistem: PHT berfokus pada budidaya tanaman sehat dan pelestarian musuh alami. Hal ini menjaga kesehatan tanah dan lingkungan secara keseluruhan, yang penting untuk menjaga produktivitas pertanian secara berkelanjutan dalam jangka panjang. Penggunaan pestisida berlebihan dapat merusak ekosistem dan membuat tanah tidak produktif di masa depan.
Singkatnya: Produktivitas dalam PHPT adalah kemampuan sistem pertanian untuk menghasilkan output yang maksimal (kuantitas dan kualitas) dan menguntungkan dengan meminimalkan dampak negatif dari OPT melalui praktik pengendalian yang cerdas dan berkelanjutan.
Penerapan 5S dalam Operasional Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman
Seiri (Ringkas/Sortir)
Menyingkirkan pestisida yang sudah kedaluwarsa, label rusak, atau tidak terdaftar/diizinkan.
Menyingkirkan alat penyemprot (sprayer) yang rusak parah atau tidak dapat diperbaiki.
Menyingkirkan stok biopeptisida yang sudah melewati batas masa pakai atau kualitasnya menurun.
Membuang catatan atau SOP lama yang sudah tidak relevan.
2. Seiton (Rapi/Susun)
Mengatur dan menyimpan pestisida berdasarkan jenis (insektisida, fungisida, herbisida), labeli dengan jelas, dan pisahkan dari alat serta produk pertanian lainnya.
Meletakkan sprayer, Alat Pelindung Diri (APD), dan alat pemantauan (misalnya lup, perangkap) di tempat yang mudah diakses dan diberi label tempat.
Menyusun data pengamatan hama, jadwal penyemprotan, dan riwayat pengendalian agar mudah dicari saat evaluasi.
3. Seiso (Sapu/Bersihkan)
Mencuci bersih semua sprayer dan peralatan setelah digunakan untuk mencegah penyumbatan, korosi, dan kontaminasi silang antara bahan yang berbeda.
Membersihkan lantai, dinding, dan rak tempat penyimpanan bahan pengendalian secara rutin dari debu, tumpahan bahan, dan kotoran.
Membersihkan sisa-sisa tanaman yang terinfeksi OPT (sanitasi) untuk memutus siklus hidup hama/penyakit.
4. Seiketsu (Rawat)
Membuat Standar Operasional Prosedur (SOP) yang jelas untuk pencampuran, aplikasi, dan pembuangan limbah pestisida.
Menggunakan tanda visual (label warna, denah gudang, shadow boards untuk alat) untuk memastikan setiap item ada di tempatnya.
Menetapkan jadwal dan checklist rutin untuk memeriksa kebersihan sprayer dan kondisi gudang.
5. Shitsuke (Rajin/Disiplin/Membiasakan)
Melakukan pelatihan dan penyegaran rutin mengenai tata cara kerja dan keamanan PHPT.
Budayakan kedisiplinan dalam menggunakan APD yang tepat, mengikuti SOP 6 Tepat penggunaan pestisida, dan mengembalikan alat ke tempatnya segera setelah selesai.
Melakukan audit internal 5S secara berkala untuk memastikan konsistensi dalam jangka panjang.